Nama saya Muhammad Choirul Anwar cah Demak. Perjalanan ku ini berawal rasa penasaran dan pertanyaan buat ku sendiri, dalam hati berkata “aku itu orang Demak, tapi kenapa aku tidak pernah jalan-jalan ke semua tempat wisata di Demak? Aku malah sering jalan-jalan di kota lain.”. berwal dari itu aku ingin berkeliling demak, tapi banyak kendala yang aku alami. Di Demak ada banyak tempat wisata religi dan wisata alam nya yaitu Wisata Hutan Mangrove di Morosari, kec. Sayung Kab. Demak. Setelah aku mendengar ada wisata itu aku menjadi penasaran pingin kesana. Kemudian aku mencari tahu dengan tanya teman-temanku lewat sms, tapi informasi yang ku dapat masih kurang lengkap, karena banyak perbedaan pendapat terutama masalah tiket yang harus dibayar dan rute perjalannya. Sehingga aku mencari tahu di google dan youtube tentang wisata di Demak terutama di Morosari, Sayung Demak. Ketika aku mencari di google tentang “wisata hutan mangrove demak” yang tidak membutuhkan waktu lama langsung ketemu.
Kemudian aku membaca di blog-blog yang memberikan informasi wiasata mangrove di Demak. Setelah melihat foto dan membaca aku semakin tertarik ketika blog yang aku baca itu ada kata yang intinya “tiket masuk GRATIS” hehehe.. dan jalan bisa ditempuh dengan jalan kaki atau bawa montor ke tengah laut pakai jembatan. Tpi blognya tidak aku baca secara detail. Tapi ketika melihat ke youtube rute ke hutan mangrove malah harus pakai perahu wisata atau ojek perahu, sehingga membuat ku bingung yang benar tu yang mana sih? Kemudian aku baca lagi blognya. Oohh ternyata harus pakai perahu dan ada dua informasi yang bilang kesana untuk satu perahunya bayar 100 rb, tpi yang satu bilang 15 rb per orang. Saat melihat ini dan teman ku mualim, andi dan wahyu yang ingin kesana melihat yang membuat tidak semangat lagi. Tapi rasa penasaranku masih ada. setelah itu aku di ajak teman ku yang beranama Syahril Saroni jalan-jalan, kemudian aku menyarankan ke hutan mangrove dan Saroni setuju. Setelah di ajak saroni, aku kemudian mencari informasi lebih detail di google. Setelah aku teliti aku menemukan hasilnya yang tidak sama dengan pikiranku kemarin. Iki hasile bro.. kalau ke wisata hutan mangrove itu harus pakai perahu karena berada ditengah laut dan kita bisa berkeliling hutan mangrove dan melihat rimbunnya mangrove yang di sana banyak burung-burung, terutama burung bangau bersarang dan biaya kesana 15 rb per orang. Tapi kalau cuman ingin berfoto di mangrove tidak harus pakai perahu, karena disana ada sebuah makam ulama’ dan untuk mencapainya kita akan melewati jembatan dan disaat ditengah jemabatan kita akan melwati mangrove yang rimbun juga. Setelah membaca itu semua, aku merasa penasaran banget gimana sebenarnya rute perjalanannya dan ingin membuktikkannya. Kemudian aku dan Saroni langsung ke lokasi pada hari Minggu, 27 Desember 2015.
Hari itu aku berangkat pagi, tapi bukan untuk berangkat ke lokasi wisata melainkan untuk kesekolahan untuk menyelesaikan tugasku, karena aku sudah berjanjian berangkat jam 9. Waktu sudah menunjukan jam 8.45 dan aku menunggu di depan MA Nurul Huda Medini. Setelah menunggu sampai jam 9, akhirnya aku dan saroni berangkat jam 9 dari desa Medini kec. Gajah, kab. Demak. Aku bermodal dengan informasi google yang sudah aku baca akhirnya aku sampai di Pasar Sayung kemudian aku melihat di kanan jalan setelah melewati jemabtan ada gapura bertulis “SELAMAT DATANG DI PANTAI MOROSARI” yang berlokasi di pinggir jalan pantura bagian barat pada jam 09.44, bisa disimpulkan perjalananku -+ 44 menit dengan kecepatan montor rata-rata 70 KM/jam.
Kemudian dari gapura masuk sejauh 1 KM dengan waktu -+ 10 menit.
Sampai di perempatan ada arah menuju Pantai Morosasri, wisata mangrove dan ke makam, aku milih ke makam.
Kemudian aku sampai di pesisir disitu rame sekali dan ada jembatan yang menghubungkan ke makam yang panjangnya beberapa ratus meter.
Aku pingin bawa montor kelokasi, tapi karena ramai montornya aku titipkan. Setelah berjalan di jembatan -+ 9 menit q sampai di kumpulan pohon mangrove yang sebenarnya dulu itu ada banyak rumah, tapi karena kena abrasi rumanyanya di tinggalkan.
Disana banyak peraturan yang harus kita patuhi. Jadi jangan semabarangan kalau disana. Di bawah rimbunnya pohon mangruve dan di keramaian aku berfoto-foto, tapi ketika hanpir sampai di makam dan di makamnya di larang berfoto, karena sudah menjadi peraturan.
Setelah dari makam aku berfoto-foto lagi disekitar mangrove sampai jam 12 lebih.
Saat pulang aku merasa masih kurang dan akhirnya aku berkiling sebentar di sekitar wilayah itu dan berfoto.
Itu lah perjalananku ke makam, walaupun tidak bisa mengelilingi hutan mangrove dan ke pantai morosari karena waktu yang kurang pas. Semoga lain waktu bisa..
Cah prapatan gandek











Tidak ada komentar:
Posting Komentar