Senin, 25 Juli 2016

puncak atas angin



PUNCAK TERTINGGI



puncak bukanlah hal yang asing ditelinga kita, karena sudah banyak orang sering ke puncak gunung. Aku sebelumnya belum pernah muncak atau mendaki gunung, tapi kalau sekedar berkemah atau kemping dan kegiatan di alam sudah pernah.
Pada hari sabtu 19 maret 2016 aku untuk pertama kalinya mendaki gunung, lokasi yang saya tuju adalah puncak ATAS ANGIN dengan tinggi -+ 1700 mdpl. Puncak atas angin itu berada di gunung muria kabupaten kudus di kecamatan gebog desa rahtawu. Puncak atas angin ada beberapa orang bilang namanya natas angin, tapi dari petunjuk yang ada sebelum mendaki itu arah ke petilasan atas angin (mksd nya mungkin puncak itu di buat bersemedi)
Pendakian ke puncak yang pertama ini berawal dari postingan di facebook di grup Pecinta Alam Demak (PADe) yang ngajak muncak, tapi muncaknya ke puncak argojembangan brangkat dari desa Colo, Dawe, Kudus. Dari postingan itu aku tertarik dan komunikasi liwat facebook dan SMS, tapi 2 hari sebelum  muncak itu gak jadi ke argo jembangan, di karenakan pemandu kesana sedang sakit. Setelah informasi pemandunya sakit, aku di arahkan untuk ikut muncak ke puncak atas angin dengan acara bersih-bersih jalur pendakian dan menanam pohon bersama komunitas pemuda dengan nama “OMAH AKSI” yang bekerja sama dengan KARANG TARUNA desa rahtawu.
Sebelum muncak aku mengajak teman yang aku kenal untuk ikut, tapi tidak ada yang bisa. Aku ikut muncak bermodalkan kenyakinan dengan perlengkapan seadanya dan saya sendiri tidak kenal sama sekali dengan mereka yang akan muncak. Ini adalah sebuah panggilan alam untuk menjaga dan merawat alam untuk masa depan. Karena tidak kenal itu saya banyak kendala untuk cari informasi dan alamat mereka, karena modalku hanya “nekad” hehe...
Saya berangakat ke lokasi berkumpul di omah aksi itu dari jam 19.00-21.15 untuk di beri pengarahan dan menunggu yang belum datang. Saat berangkat ke rahtawu kami di bagi 2 kelompok, kelompok 1 pakai mobil pack up untuk mengambil pupuk dan binih tanaman, sedangkan kelompok 2 pakai montor dan menunggu yang belum berangkat. Berangkat ke rahtawu jam 21.15, tapi seblum itu kami menghanpiri teman ke bascamp di Universitas Muria Kudus, kemudian sampai di balaidesa rahtawu untuk transit sementara dan kumpul dengan karang taruna dari pukul 21.45-22.15. dari balaidesa kami berangkat pakai pack up dan diantar sampai depan gapura jalur pendakian.
Perjalanan dimulai jam 23.00, semua berangkat bersamaan melewati jalur pendakian yang jalannya terjal dan jalannya naik, yang membuat tubuh berkeringat, sehingga tidak merasakan rasa dingin di gunung. Dalam perjalanan yang jauh dan jumlah orang yang banyak membuat kami terpisah menjadi kelompok-kelompok kecil dan berkali-kali istirahat dan saling mendahului.
Akhirnya sampai puncak Abiyoso jam 01.00 untuk istirahat dan tidur setelah perjalanan -+ 2 jam. Di puncak abiyoso sudah tempat lokasi tidur, tapi q lebih milih kumpul dengan yang lain di dalam gubung dan tidur berlantaikan bumi, beratapkan langit dan di temani api unggun, yang sebagian tidur di tenda dan rumah yang disediakan.
Melanjutkan perjalanan ke puncak Atas Angin jam 06.30, seharusnya berangkat jam 03.00 sesuai scedhule, tapi karena banyak yang masih lelah dan tidur karena kelelahan. Aku sudah bangun jam 03.00 berharap bisa melanjutkan muncak, tapi kenyatannya gak jadi dan aku melanjutkan tidur lagi. Dalam melanjutkan perjalan ini ada beberapa teman yang masih di puncak abiyoso karena suadah tidak kuat melanjutkan perajalanan untuk naik ke puncak atas angin.
Akhirnya sampai puncak atas angin jam 07.30, setelah melewati jalur yang menantang dan juga berbahaya. Perjalan dari puncak abiyoso sampai puncak atas angin hanya 1 jam, tapi perjalanan nya lebih menantang, karena jalannya lebih susah dan saat puncaknya sudah kelihatan di mata jalannya berbahaya sekaligus indah dan menakjubkan. Sesampai di puncak kami istirahat, kemudian bersih-bersih sampah plastik yang dibuang para pendaki yang tidak bertanggungjawab dan tidak lupa berfoto-foto untuk mengabadikan saat di puncak atas angin.
Perjalan untuk kembali dengan jalur yang berbeda dan memutar, kalau melewati jalur saat berangkat itu lebih berbahaya untuk turun gunung. Perjalanan yang memutar itu menjadi lebih jauh menajdi 1 jam 30 menit dan jalan nya itu melewati wilayah kabupaten jepara dan jalannya naik turun untuk sampai ke puncak abiyoso dan beberapakali kami istirahat dalam perjalanan.
Sampai di puncak abiyoso lagi, kemudian kami istirahat sebentar dan berkemas.   Kami turun gunung jam 10.30, sebelum itu foto bersama, walaupun aku gak ikut berfoto. Perjalanan turun kita pisah-pisah dan bersih-bersih dari sampah dan perjalanannya di selimuti kabut yang tebal. Di pertengahan jalan cuaca mulai mendung dan grimis, sehingga aku jalan terus turun gunung supaya tidak kehujanan bersama beberapa teman dan yang lain masih bnyak yang di belakang. Sampai di gapura jam 12.15 dan kemudian aku berlindung di warung, karena mulai hujan dan menunggu teman-teman yang masih di jalan dan kehujanan.
Menunggu hujan berhenti sekitar 1 jam kemudian kembali ke lokasi balaidesa jam 14,00. Setelah di balaidesa aku dan teman yang lain ambil motor dan pulang ke Omah Aksi. Dalam perjalanan saya merasa lelah dan ngantuk sekali sehingga dalam perjalan aku bertahan menahan kantuk dan saya di ajak ke tempat kost teman saya untuk mengambil beberapa keperluaannya. Setelah sampai di omah aksi aku langsung pulang, sampai rumah gak langsung istirahat melainkan pergi melakukan aktivitas lain di luar ruamah.
Sebuah perjalanan ke “puncak tertinggi”, maksud tertinggi bukan tertinggi di dunia, tetapi puncak tertinggi yang aku datangi dan yang pertama. 



TTD
Alumni MA Nurul Huda Medini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar