PUNCAK
TERTINGGI
puncak bukanlah hal yang asing ditelinga kita,
karena sudah banyak orang sering ke puncak gunung. Aku sebelumnya belum pernah
muncak atau mendaki gunung, tapi kalau sekedar berkemah atau kemping dan
kegiatan di alam sudah pernah.
Pada hari sabtu 19 maret 2016 aku untuk
pertama kalinya mendaki gunung, lokasi yang saya tuju adalah puncak ATAS ANGIN
dengan tinggi -+ 1700 mdpl. Puncak atas angin itu berada di gunung muria
kabupaten kudus di kecamatan gebog desa rahtawu. Puncak atas angin ada beberapa
orang bilang namanya natas angin, tapi dari petunjuk yang ada sebelum mendaki
itu arah ke petilasan atas angin (mksd nya mungkin puncak itu di buat
bersemedi)
Pendakian ke puncak yang pertama ini berawal
dari postingan di facebook di grup Pecinta Alam Demak (PADe) yang ngajak
muncak, tapi muncaknya ke puncak argojembangan brangkat dari desa Colo, Dawe,
Kudus. Dari postingan itu aku tertarik dan komunikasi liwat facebook dan SMS,
tapi 2 hari sebelum muncak itu gak jadi
ke argo jembangan, di karenakan pemandu kesana sedang sakit. Setelah informasi
pemandunya sakit, aku di arahkan untuk ikut muncak ke puncak atas angin dengan
acara bersih-bersih jalur pendakian dan menanam pohon bersama komunitas pemuda
dengan nama “OMAH AKSI” yang bekerja sama dengan KARANG TARUNA desa rahtawu.
Sebelum muncak aku mengajak teman yang aku
kenal untuk ikut, tapi tidak ada yang bisa. Aku ikut muncak bermodalkan
kenyakinan dengan perlengkapan seadanya dan saya sendiri tidak kenal sama
sekali dengan mereka yang akan muncak. Ini adalah sebuah panggilan alam untuk
menjaga dan merawat alam untuk masa depan. Karena tidak kenal itu saya banyak
kendala untuk cari informasi dan alamat mereka, karena modalku hanya “nekad”
hehe...
Saya berangakat ke lokasi berkumpul di omah
aksi itu dari jam 19.00-21.15 untuk di beri pengarahan dan menunggu yang belum
datang. Saat berangkat ke rahtawu kami di bagi 2 kelompok, kelompok 1 pakai
mobil pack up untuk mengambil pupuk dan binih tanaman, sedangkan kelompok 2
pakai montor dan menunggu yang belum berangkat. Berangkat ke rahtawu jam 21.15,
tapi seblum itu kami menghanpiri teman ke bascamp di Universitas Muria Kudus,
kemudian sampai di balaidesa rahtawu untuk transit sementara dan kumpul dengan
karang taruna dari pukul 21.45-22.15. dari balaidesa kami berangkat pakai pack
up dan diantar sampai depan gapura jalur pendakian.
Perjalanan dimulai jam 23.00, semua berangkat
bersamaan melewati jalur pendakian yang jalannya terjal dan jalannya naik, yang
membuat tubuh berkeringat, sehingga tidak merasakan rasa dingin di gunung.
Dalam perjalanan yang jauh dan jumlah orang yang banyak membuat kami terpisah
menjadi kelompok-kelompok kecil dan berkali-kali istirahat dan saling
mendahului.
Akhirnya sampai puncak Abiyoso jam 01.00 untuk
istirahat dan tidur setelah perjalanan -+ 2 jam. Di puncak abiyoso sudah tempat
lokasi tidur, tapi q lebih milih kumpul dengan yang lain di dalam gubung dan
tidur berlantaikan bumi, beratapkan langit dan di temani api unggun, yang
sebagian tidur di tenda dan rumah yang disediakan.
Melanjutkan perjalanan ke puncak Atas Angin
jam 06.30, seharusnya berangkat jam 03.00 sesuai scedhule, tapi karena banyak
yang masih lelah dan tidur karena kelelahan. Aku sudah bangun jam 03.00
berharap bisa melanjutkan muncak, tapi kenyatannya gak jadi dan aku melanjutkan
tidur lagi. Dalam melanjutkan perjalan ini ada beberapa teman yang masih di
puncak abiyoso karena suadah tidak kuat melanjutkan perajalanan untuk naik ke
puncak atas angin.
Akhirnya sampai puncak atas angin jam 07.30,
setelah melewati jalur yang menantang dan juga berbahaya. Perjalan dari puncak
abiyoso sampai puncak atas angin hanya 1 jam, tapi perjalanan nya lebih
menantang, karena jalannya lebih susah dan saat puncaknya sudah kelihatan di
mata jalannya berbahaya sekaligus indah dan menakjubkan. Sesampai di puncak
kami istirahat, kemudian bersih-bersih sampah plastik yang dibuang para pendaki
yang tidak bertanggungjawab dan tidak lupa berfoto-foto untuk mengabadikan saat
di puncak atas angin.
Perjalan untuk kembali dengan jalur yang berbeda
dan memutar, kalau melewati jalur saat berangkat itu lebih berbahaya untuk
turun gunung. Perjalanan yang memutar itu menjadi lebih jauh menajdi 1 jam 30
menit dan jalan nya itu melewati wilayah kabupaten jepara dan jalannya naik
turun untuk sampai ke puncak abiyoso dan beberapakali kami istirahat dalam
perjalanan.
Sampai di puncak abiyoso lagi, kemudian kami
istirahat sebentar dan berkemas. Kami turun gunung jam 10.30, sebelum itu foto
bersama, walaupun aku gak ikut berfoto. Perjalanan turun kita pisah-pisah dan
bersih-bersih dari sampah dan perjalanannya di selimuti kabut yang tebal. Di
pertengahan jalan cuaca mulai mendung dan grimis, sehingga aku jalan terus
turun gunung supaya tidak kehujanan bersama beberapa teman dan yang lain masih
bnyak yang di belakang. Sampai di gapura jam 12.15 dan kemudian aku berlindung
di warung, karena mulai hujan dan menunggu teman-teman yang masih di jalan dan
kehujanan.
Menunggu hujan berhenti sekitar 1 jam kemudian
kembali ke lokasi balaidesa jam 14,00. Setelah di balaidesa aku dan teman yang
lain ambil motor dan pulang ke Omah Aksi. Dalam perjalanan saya merasa lelah
dan ngantuk sekali sehingga dalam perjalan aku bertahan menahan kantuk dan saya
di ajak ke tempat kost teman saya untuk mengambil beberapa keperluaannya.
Setelah sampai di omah aksi aku langsung pulang, sampai rumah gak langsung
istirahat melainkan pergi melakukan aktivitas lain di luar ruamah.
Sebuah perjalanan ke “puncak tertinggi”,
maksud tertinggi bukan tertinggi di dunia, tetapi puncak tertinggi yang aku datangi
dan yang pertama.
TTD
Alumni MA Nurul Huda Medini
Tidak ada komentar:
Posting Komentar